Motor standar? mungkin bila motor itu baru sangatlah terlihat menarik. Namun lama kelamaan pasti ada bosannya entah itu pada asesoris ataupun warna dari body motor itu sendiri. berikut ada sample sample motif airbrush.
Read more »
Rabu, 01 Januari 2014
Modifikasi YAmaha Rx King
Lama tenggelam tidak ada kabar bukan berarti motor ini sudah tidak ada yang pakai atau jadul bukan style anak muda jaman sekarang lagi. bila ditelusuri lebih dalam motor Rx King ini semakin menjelma menjadi motor yang tangguh dan di modifikasi sedemikian rupa menjadi motor yang style anak muda banget.
Read more »
Semarak Tahun Baru
Pagi itu tanggal 31 Desember adalah akhir tahun menjelang
malam pergantian tahun. Banyak orang selalu merayakan malam tahun baru, entah
itu berkumpul bersama keluarga ataupun bersama teman. Pada malam tahun baru
kali ini, saya bersama pacar saya mencoba mencari suasana baru malam pergantian
tahun.
Pita : “Tahun baru gada acara apaa?”
Eko : “Emang maunya kemanaaa?”
Pita : ”Kemana aja deh daripada dirumah kan”
Semakin pusing memikirkan kemana arah pergi malam ini,
akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke puncak. Disamping karena puncak
aksesnya lumayan dekat, puncak juga menjadi salah satu objek banyak orang untuk
merayakan malam tahun baru.
Eko : “Yaudah kita ke puncak aja lah daripada pusing kemana
mana macetnya ga tahan”
Pita : “Ok deh”
Waktu demi waktu, percakapan kami pun semakin panjang untuk
mempersiapkan malam pergantian tahun ini. Pita menginginkan kembang api untuk
dinyalakan di puncak tepatnya pada pas pergantian tahunnya. Karena dia
menginginkan kembang api, saya pun mencari. Ternyata tidak seperti hari biasa,
pada saat akhir tahun seperti ini, sangatlah banyak tukang jualan yang menjual
kembang api di sepanjang jalan. Dari kembang api sampai terompet yang beraneka
ragam bentuknya. Saya pun tidak menyia-nyiakannya lagi dan langsung membeli 3
buah kembang api itu.
Namun ada lagi kendala pada saat itu, kebetulan pada hari itu
saya masuk kuliah dan pacar saya sedang libur dan dia berada di rumah, jadi
kami hanya bisa kontekan lewat ponsel saja. Kendala yang kita temui ketika
siang itu turun hujan.
Pita : “Yaang, gimana nih ujan mulu dari pagi ga berenti
berenti. Kalo sampe malem gimana ujannya”
Saya pun hanya bisa terdiam sambil menjawab.
Eko : “Udah tenang yaaang, semoga aja malem ga ujan”
Pita : “Kalo ujan aku males kaluarnya kaan”
Eko : “iya tenang aja pokoknya”
Disitu yang berharap dan berdoa semoga malam nanti hujan
berenti atau tidak hujan sama sekali. Namun ternyata, sampai sore hujan pun
masih turun. Disitu saya hanya bisa berpasrah diri saja dan bertanya pada diri
sendiri “masa gajadi sih acara malem ini”.
Entah itu berkah atau apa tidak lama kemudian hujan pun mulai
mengecil dan berhenti dengan sendirinya. Mungkin doa saya ini terkabul, karena
memang benar tidak lama hujannya berenti. Saat itu waktu menunjukan pukul
18.00. Tidak menunggu lama lagi saya pun langsung bergegas bersiap siap untuk
pulang ke bogor dan menjemput pita.
Hari pun semakin gelap ketika perjalanan saya dari Depok ke
Bogor. Suara terompet semakin terdengar dimaman-mana, “padahal masih sore yaaa”
pikir saya dalam hati. Ternyata yang meniup terompet itu hanyalah anak anak
kecil yang sedang bermain.
Pukul 19.00 saya sampai dirumah Pita untuk menjemputnya.
Eko : “Aku depan rumah kamu nih”
Pita : “Oke bentar”
Beberapa saat menunggu akirnya Pita keluar dan membawa
kembang api juga, jadi kembang api yang kami bawa cukup banyak untuk malam ini.
Waktu pun semakin malam lalu saya memutuskan untuk bergegas.
Eko : “Yaang ayolah kita berangkat”
Pita : “Berangkat kemanaa?” sambil senyum mengolok kepadaku.
Eko : “Kemana aja deh yang penting ga tahun baruan dirumah”
Pita pun tersenyum sambil melihatku, dan kita langsung
berangkat. Pada saat itu waktu menunjukan waktu 09.00.
Perjalanan ke puncak memakan waktu kurang lebih 1jamkarena
kondisi jalanan yang sudah mulai padat. Sesampainya disana ternyata hujan
rintik rintik mulai turun.
Eko : “yaah ujan deh”
Pita : “Neduh dulu deh neduh”
Akhirnya kita memutuskan untuk meneduh sejenak. Ternyata
puncak malam itu sangatlah dingin dan sangat dingin sampai-sampai kopi panas
yang saya pesan cepat sekali menjadi dingin.
Tidak terasa waktu pun berjalan, tau tau udah jam 11 aja.
Pita : “udah jam 11 nih yang masa mau disini aja?”
Eko : “Lah iya udah jam segini aja”
Dan lagi lagi disaat hujan menjadi kendala, pada saat itu
hujan berenti dengan sendirinya. Lalu kami bergegas kembali untuk melakukan
perjalanan ke puncak pas yaitu titik puncak yang paling atas, walaupun malam
itu kabut menyelimuti puncak, bukan berarti kita patah semangat untuk merayakan
tahun baru disana, justru semakin puncak semakin ramai.
Sesampainya di puncak pas, ternyata sudah banyak orang disana
menantikan detik detik pergantian tahun disana.
Udara dingin ditambah keramaian sekerumunan orang disana
menjadi penyemangat untuk merayakan tahun baru ini. Lalu tidak lama kemudian
waktu menunjukan waktu 23.59 sampai akhirnya ada yang menghitung mundur. Dan
akhirnya, pesta kembang api pun dimulai secara serentak semua orang disitu
bersorak “Happy new year” ada yang bersorak “Welcome 2014” ada juga yang bilang
“Goodbye 2013” dan tidak sedikit juga yang menyalakan kembang api dan meniup
terompet dengan semangatnya.
Melihat orang menyalakan kembang api, saya pun langsung
mengeluarkan kembang api untuk membuat suasana semakin meriah, dan akhirnya
banyak kembang api bertebaran di langit berwarna warni. Udara yang begitu
dinginnya sejenak menjadi hangat karena semangat sorak sorai dari semua orang
yang ada di sekitar.
Begitu meriahnya merayakan malam pergantian tahun di puncak.
Semoga tahun ini dan tahun seterusnya saya bisa merayakan malam yang lebih meriah
di malam pergantian tahun baru.
Kamis, 07 November 2013
ANALISIS STRUKTURAL NOVEL Jangan Main-main dengan Alat (kelaminmu)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sastra adalah karya yang memiliki berbagai ciri keunggulan
seperti keorisinilan, keartistikan, kehidupan dalam isi dan ungkapannya
(Sudjiman, 1990: 17). Karya sastra biasanya menampilkan suatu gambaran
kehidupan yang berdasarkan fakta sosial dan kultural, karya sastra pada dasarnya bukan
hanya sebagai hasil tiruan realitas kehidupan tetapi merupakan penafsiran-penafsiran terhadap realitas yang
terjadi di masyarakat (Esten, 1989: 8).
Penelitian terhadap karya sastra penting dilakukan untuk
mengetahui relevansi karya sastra dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat.
Nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat pada dasarnya mencerminkan realita
sosial dan memberikan pengaruh terhadap masyarakat Oleh karena itu, karya sastra dapat
dijadikan medium untuk mengetahui realitas sosial yang diolah secara kreatif
oleh pengarang.
Novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang menyajikan
cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata, yang mempunyai unsur
intrinsik dan ekstrinsik.
Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia bermacam-macam
masalah dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesamanya. Seorang pengarang
berusaha semaksimal mungkin mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran
realita kehidupan lewat cerita yang ada dalam novel tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan di buat makalah ini adalah sebagai salah satu tugas softskill mata
kuliah Bahasa Indonesia. Mahasiswa
dapat mengetahui analisis novel Jangan
main-main (dengan
kelaminmu) dengan
menggunakan pendekatan struktural. Mahasiswa dapat mengetahui unsur intrisik
dan ekstrinsik Jangan main-main (dengan kelaminmu)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Landasan Teori
Pendekatan Struktural
Struktur berasal dari kata structura (bahasa latin) yang
berarti bentuk atau bangunan. Srtukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur yaitu struktur itu sendiri dengan mekanisme
antar hubungannya, hubungan unsur yang satu dengan yang lainnya, dan hubungan
antar unsur dengan totalitasnya. Strukturalisme sering digunakan oleh peneliti
untuk menganalisis seluruh karya sastra, dimana kita harus memperhatikan
unsur-unsur yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Struktur yang membangun sebuah karya
sastra sebagai unsur estetika dalam dunia karya sastra antara lain: alur,
penokohan, sudut pandang, gaya bahasa, tema dan amanat (Ratna, 2004 : 19-94).
Pradopo dkk (dalam Jabrohim & Wulandari, 2001: 54) menjelaskan bahwa suatu
konsep dasar yang menjadi ciri khas teori struktural adalah adanya anggapan
bahwa didalam dirinya sendiri karya sastra merupakan suatu stuktur yang otonom
yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur
pembangunannya yang saling berjalin. Stanton (1965 : 12) mengemukakan bahwa
unsur-unsur pengembangan itu terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana
cerita. Tema adalah makna sebuah cerita yang khusus menerangkan sebagian besar
unsurnya dengan cara yang sederhana. Fakta cerita yang terdiri atas alur,
tokoh, dan latar, sedangkan sarana sastra biasanya terdiri sudut pandang, sudut
pandang gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imajinasi, dan cara-cara
pemilihan judul di dalam karya sastra. Sarana sastra adalah memadukan fakta
sastra dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami dengan jelas.
Dalam pendekatan struktural, karya sastra baik fiksi maupun puisi adalah sebuah
totalitas yang dibangun secara kohernsif oleh berbagai unsur pembentuknya
(Abrams dalam Pradopo, 1995, 78). Analisis stuktur dapat dilakukan dengan cara
mengidentifikasi, mengkaji, mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur
intrinsik, fisik yang bersangkutan (Nurgiantoro, 2000 : 37). Analisis
stuktural.
Tema merupakan ide dasar yang bertindak sebagai titik tolak
keberangkatan pengarang dalam menyusun sebuah dalam cerita. Jadi, sebelum
menulis cerita, seorang pengarang harus sudah menyiapkan tema terlebih dahulu. Oleh karena itu penyikapan
terhadap eksistensi tema akan bertolak belakang antara pengarang dan pembaca.
Pengarang harus menentukan temanya terlebih dahulu, sebelum menulis ceritanya.
Adapun bagi pembaca, tema itu akan dapat dipahami jika pembaca itu telah
membaca keseluruhan cerita dan menyimpulkannya. Seperti halnya tema, setelah
membaca keseluruhan cerita, pembaca akan menemukan pesan yang ingin disampaikan
pengarang pada pembaca. Bagi pembaca, tema dan pesan itu baru akan benar-benar
jelas jika pembaca tersebut telah memahami unsur-unsur yang membangun sebuah
cerita yang dibacanya. Unsur-unsur tersebut adalah latar, alur, sudut pandang,
dan penokohan. Latar atau Setting dalam prosa fiksi merupakan tempat, waktu dan
penokohan. Alam atau
cuaca terjadinya suatu peristiwa. Hal ini perlu dimunculkan dalam sebuah cerita
karena pada dasarnya setiap perbuatan atau aktivitas manusia akan terjadi
pada tempat, waktu, dan keadaan tertentu pula. Peristiwa dalam kehidupan
manusia mungkin akan terjadi di pasar, taman, rumash sakit, angkasa, dalam
laut, dan sebagainya; pada saat malam hati, sore hari, akhir tahuhn, seperempat
abad yang lalu, dan sebagainya. Dengan lukisan tempat, waktu, dan situasi,
jelas akan membuat cerita itu tampak lebih hidup dan logis. Namun, sesungguhnya
secara lebih jauh, latar diciptakan untuk membangun suasana tertentu yang dapat
menggerakan perasaan dan emosi pembaca (untuk menciptakan mood atau suasana
batin pembaca). Alur atau plot adalah struktur penceritaan dalam prosa
fiksi yang didalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun
berdasarkan hukum
sebab- akibat (kausalitas)
dan logis. Alur terbentuk oleh tahapan emosional dan suasana dalam cerita.
Tahapan perumitan , tahap puncak (klimaks), tahap peleraian, dan tahap akhir.
2.2 Sinopsis
Dalam
novel ini pembaca disuguhkan cerita tentang konflik batin antara suami dan
istri yang sudah bosan menjalani kehidupan rumah tangganya karena istri sudah
berubah tidak sesegar dulu lagi, sehingga suami merasa jenuh dalam keadaan
tersebut, akhirnya suami pun berselingkuh dengan perempuan lain. Padahal istri sudah berupaya untuk tetap
merawat kebugarannya dengan melakukan senam dan fitness. Pada akhir cerita ini suami ditinggalkan oleh istri dan selingkuhannya.
“sudah saatnya saya bertindak tegas. Tidak seperti
dirinya yang hanya dapat bergumam, saya akan menentukan dan memilih kebahagiaan
saya sendiri (hal.12)
“sudah saatnya saya bertindak tegas. Saya berhak menentukan
dan memilih kebahagiaan saya sendiri (hal.12) “Saya hanya main-main, Ma… saya cinta kamu. Beri kesempatan
saya untuk memperbaiki kesalahan saya.”
“Saya sering katakana, jangan main
api nanti terbakar.”
“Saya tidak main-main. I’m leaving you…”
“Saya tidak main-main. I’m leaving you…”
Ini
tidak main-main!
2.3 Analisis Novel
Dalam cerpen yang berjudul Jangan
Main-Main (Dengan Kelaminmu). pengarang menyuguhkan satu cerita tentang
perselingkuhan suami. Itu memang hal yang biasa, namun pengarang menyajikan
dengan sangat unik melaui berbagai macam sudut pandang. Sehingga pembaca bisa
menjadi seseorang yang berbeda didalam satu cerita dan merasakan apa yang para
tokoh yang semuanya dijadikan sudut pandang pengarang. Perselingkuhan memang
hal yang sangat menyakitkan, namun setelah membaca cerpen tersebut, kita tahu
alasan mengapa adanya perselingkuhan. Entah itu karena “penyakit” yang sudah
menjadi kebiasaan atau pun karena sang istri tidak bisa menjaga penampilannya
agar suami merasa nyaman.
Awalnya memang urusan kelamin,
ketika pada suatu hari ia terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging,
sebangkol lemak, gulungan kerut merut hingga suara kaleng rombeng. Saya sudah
terbiasa mendengar keluhan suami-suami tentang istri-istri mereka. Saya juga
tahu, mereka senang, sayang sampai cinta pada saya, awal mulanya pasti urusan
fisik, urusan mata, urusan syahwat, mana mungkin bertemu langsung sayang, pasti
senang dulu, dan senang itu bukan urusan
perasaan tapi pemandangan bukan? Sebenarnya, saya tidak terlalu nyaman
mendengar keluhanya itu. Saya toh sorang perempuan yang suatu saat akan menjadi
istri, yang berlemak, berkerut-merut dan cerewet seperti kaleng rombeng, yang
suatu saat nanti mungkin akan dicampakan dan dilupakan seperti istrinya
sekarang. Tapi sekarang ya sekarang, nanti ya nanti. Saya cantik, ia
mapan. Saya butuh uang, ia butuh kesenangan. Serasi, bukan? Namun begitu, saya
sering menasehatinya supaya tidak teralalu kejam begitu pada istri.
Sekali-sekali, tak ada salahnya member istri sentuhan dan kepuasan. Bukannya
sok pahlawan. Bukannya saya sok bermoral. Bukannya saya membela perempuan. Tapi
saya memang tak ada beban. Target saya hanya kawin urat, bukan kawin surat.
Tapi ia kerap menjawab, “kalau saya saja jengah bertemu, apalagi kelamin saya?”
Hal 6
Tokoh- tokoh yang terdapat pada
novel ini yaitu:
1. Suami (diceritakan pada paragraf
pertama)
2. Sahabat suami
(diceritakan pada setiap paragraf kedua)
3. Pacar sang suami /selingkuhan
(diceritakan pada setiap paragraf ketiga)
4. Istri (diceritakan pada paragraf
keempat)
Alur yang digunakan dalam novel ini
adalah alur maju.
Latar atau setting:
a.
Latar tempat
·
Tempat tidur. Latar tempat ini
diceritakan pada awal cerita. Hal tersebut terlihat dari pernyataan dibawah
ini: ” Ketika pada suatu hari saya
terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging tak segar dipenuhi gajih yang tak akan mudah hilang “. (hal.
3).
·
Dijalan, dikantor, dirumah Seperti
pada kutipan di bawah ini:” Sebentar
kemudian saya akan terjebak kemacetan, bertemu klien yang menyebalkan, dan karyawan
yang tak berhenti minta tanda tangan, rutinitas yang membosankan. Anehnya,
sejak hari itu, saya lebih memilih lekas-lekas berada ditengah-tengah kemacetan
dan segudang rutinitas yang membosankan itu ketimbang lebih lama di rumah”.
(hal.5).
b. Latar Suasana
·
Kecewa “Ketika pada suatu hari saya terbangun dan terperanjat di sisi seonggok
daging tak segar dipenuhi gajih yang tak akan mudah hilang dengan latihan senam
maupun fitness (hal.3)
·
Sedih ”Mungkin saya sudah terlalu merendahkan diri saya sendiri dengan
membiarkannya menginjak-injak harga diri
saya selama pernikahan kami.” (hal.12)
·
.Senang “Saya butuh uang, ia butuh kesenangan. Serasi, bukan.” (hal. 6).
·
Gelisah“Saya heran. kehamilan saya
sepertinya tidak juga membuatnya bahagia .” (hal.12)
Sudut pandang:
Sudut pandang dalam novel ini terdiri dari empat orang
dengan sudut pandangnya masing-masing ( Suami,Sahabat suami , Wanita simpanan
dan Istri).
Sudut pandang orang pertama, ( Suami
dan istri)
Sudut pandang orang ketiga,
(Sahabat suami dan Pacar sang suami
/selingkuhan)
Tema:
Djenar menyajikan sebuah dunia yang dipenuhi karakter
manusia yang terluka, oleh norma masyarakat, dan pengkhianatan.
Amanat yang terkandung adalah
·
Hati-hatilah dalam bermain dengan
kelamin! kalau tidak ingin mengatakan jangan main-main dengan kelamin!
·
suatu pelajaran hidup bahwa jika
kita mencintai seseorang jangan melihat dari fisik, karena keindahan fisik akan
berubah.
·
Sebagai seorang istri haruslah
pintar-pintar merawat diri agar suami betah
dirumah dan tidak selingkuh
Unsur Ekstrinsik Di dalam novel selain memiliki unsur
intrinsik juga memiliki unsur ekstrinsik seperti unsur ekstrinsik dalam
analisis novel ”Jangan main-main (dengan kelaminmu)” di bawah ini:
1. Nilai Sosial Nilai sosial merupakan hal-hal yang
berkaitan dengan kehidupan masyarakat, dan nilai social berhubungan dengan cara
seseorang berintrinsik dan bersosialisasi., seperti yang ada dalam kutipan di
bawah ini:” Peselingkuhan di masyarakat umum merupakan hal yang sangat
sensitive dan merupakan norma sosial yang dilarang namun bila diamati diam-diam
kita sudah terbiasa oleh wacana perselingkuhan.
2. Nilai Agama
Perselingkuhan menurut Islam merupakan perbuatan yang sangat
tercela berikut dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Quran
“Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk.”
(Al-Isra’: 32).
Allah
S.W.T berfirman, “Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki
yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang
baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.” (an-Nur':26).
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dalam cerpen yang berjudul Jangan Main-Main (Dengan
Kelaminmu). pengarang menyuguhkan satu cerita tentang perselingkuhan suami.
Itu memang hal yang biasa, namun pengarang menyajikan dengan sangat unik melaui
berbagai macam sudut pandang. Sehingga pembaca bisa menjadi seseorang yang
berbeda didalam satu cerita dan merasakan apa yang para tokoh yang semuanya
dijadikan sudut pandang pengarang. Perselingkuhan memang hal yang sangat
menyakitkan, namun setelah membaca cerpen tersebut, kita tahu alasan mengapa
adanya perselingkuhan. Entah itu karena “penyakit” yang sudah menjadi kebiasaan
atau pun karena sang istri tidak bisa menjaga penampilannya agar suami merasa
nyaman. Dalam cerita novel ini terdapat latar yang beragam, seperti di tempat
tidur, di jalan, di kantor, di rumah dan lain-lain. Tetapi ada satu latar yang
sering dipakai dalam cerita novel ini yaitu di rumah. Adapun alur yang dipakai
pengarang yaitu alur maju, karena meski dalam paragraf diulang-ulang pada
pengisahan sudut pandangnya cerita novel ini disajikan secara berurutan dari
tahap perkenalan saya, dilanjutkan
tahap penampilan masalah, dan diakhiri dengan tahap penyelesaian sudut pandang
dalan novel jangan main-main (dengan
kelaminmu) ini tokoh saya mengakhirinya.
Dan bahasa yang dipakai oleh pengarang menggunakan bahasa yang pulgar dan terkesan
jorok namun tidak mengurangi keindahan makna didalamnya. Selain unsure-unsur
intrinsic, di dalam novel ini pun terdapat unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik
merupakan unsur yang berupa nilai-nilai yang berhubungan dengan moral, sosial,
agama, sejarah dan pendidikan. Dalam novel ini hanya dipaparkan dua nilai yaitu
nilai sosial dan nilai agama.
3.2 . Kritik dan Saran
Dapat disarankan agar tidak menggunakan cerpen dengan jenis
ini sebagai bahan pengembangan pengajaran karya sastra di sekolah. Jika dilihat
dari segi nilai dan moral Kumpulan Cerpen Jangan Main- Main (dengan
Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu ini lebih bersifat sebagai karya sastra
yang pornografi.
dari segi peminat novel ini banyak disukai
mulai dari kalangan anak – anak hingga dewasa. Saran Sebaiknya penulis dapat
lebih mengangkat kebudayaan yang ada di Indonesia agar bisa terlihat oleh dunia
luas bahwa Indonesia mempunyai kebudayaan yang bagus untuk di terapkan
pada
kehidupan sehari-hari.
DAFTAR
PUSTAKA
Ayu, Maesa
Djenar. 2008. Jangan main-main (dengan kelaminmu). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Langganan:
Postingan (Atom)


























.jpg)






















.jpg)

